Welcome to Kaltara Bloggers


Sign In | Sign up | Today
Kaltara Bloggers > Artikel, Paper, Karya Ilmiah,   views: 20408     join now to start a new topic

Title: MAKALAH TENTANG SEJARAH PERKEMBANGAN AGAMA 



MAKALAH



TENTANG SEJARAH PERKEMBANGAN
AGAMA



 



<!--[if gte vml 1]> id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" o:spt="75" o:preferrelative="t"
path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f">

















alt="C:\Users\1810T\Pictures\ub.jpg" style='width:237pt;height:220.5pt;
visibility:visible'>
o:title=""/>
<!--[endif]-->




Disusun oleh :



ACHMAD



73.2001D.09.003



 



DIII
KEPERAWATAN UNIVERSITAS BORNEO



TARAKAN



2009



 



Sejarah dan Perkembangan
Agama Hindu



 



1. Awal Perkembangan Agama
Hindu
 



Agama Hindu berasal dari
India. Untuk mengetahui sejarah perkembangannya haruslah juga dipelajari
sejarah perkembangan India meliputi aspek perkembangan penduduk maupun aspek
kebudayaannya dari jaman ke jaman. Berdasarkan penelitian usia kitab- kitab
Weda, para ahli sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama Hindu telah tumbuh dan
berkembang pada sekitar 6.000 tahun sebelum tahun Masehi. Sebagai agama tertua,
agama Hindu kemudian berkembang ke berbagai wilayah dunia, termasuk Asia
Tenggara dan Indonesia.



2. Penduduk India  



Penduduk asli yang
mendiami India sekarang bermukim di daerah dataran tinggi Dekkan. Kehidupannya
masih sangat sederhana.

Bangsa Dravida berasal dari daerah Asia Tengah (Baltic) masuk ke India dan
mendiami daerah sepanjang sungai Sindhu yang subur. Kebudayaan mereka lebih
tinggi dari penduduk asli. Bangsa Arya juga berasal dari daerah sekitar Asia
Tengah, menyebar memasuki daerah- daerah Iran (Persia), Mesopotamia, dan juga
masuk ke daerah Eropa. Yang sampai masuk ke India adalah merupakan bagian dari
yang pernah masuk ke Iran. Mereka masuk ke India dalam dua tahap di dua tempat
yang berbeda. Pertama mereka masuk di daerah Punjab yaitu daerah lima aliran
anak sungai yang disambut dengan peperangan oleh bangsa Dravida yang sudah
lebih dulu bermukim di sana. Karena bangsa Arya lebih maju dan lebih kuat,
Bangsa Dravida dapat dikalahkan. Tahap kedua Bangsa Arya masuk ke India melalui
daerah dua aliran sungai yaitu lembah sungai Gangga dan lembah sungai Yamuna,
daerah ini dikenal dengan nama daerah Doab. Kedatangan mereka tidak disambut
peperangan, bahkan kemudian terjadi percampuran melalui perkawinan. Bangsa-
bangsa inilah yang menjadi nenek moyang bangsa India sekarang.



3. Jaman Weda  



Telah diketahui bahwa
bangsa yang datang kemudian di India adalah bangsa Arya yang mendiami dua
tempat yaitu di Punjab dan Doab. Di kedua daerah tersebut mereka berkembang dan
mengembangkan peradabannya. Dikatakan bahwa orang- orang Aryalah yang menerima
wahyu Weda. Wahyu- wahyu Weda ini tidak turun sekaligus, melainkan dalam jangka
waktu yang agak lama, dan juga tidak diwahyukan di satu tempat saja. Penerima
wahyu disebut Maha Resi, diterima melalui pendengaran, dan oleh sebab itu wahyu
Weda disebut Sruti (sru= pendengaran). Kurun waktu turunnya wahyu- wahyu Weda
itulah yang disebut jaman Weda dan ajaran Weda inilah yang kemudian tersebar ke
berbagai penjuru dunia.



4. Penyebaran Agama Hindu  



Dalam suatu penggalian di
Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya
adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini
"Maitra Waruna" yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut
agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi.

Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah
bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut;
dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa
penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan
Raja Kosala yang beragama Hindu dari India.

Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang
bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah
itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu.
Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orang- orang Astika
(Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini
adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan "Aztec"
yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini.

Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saat- saat
matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini
disebut Inca. Kata "Inca" berasal dari kata "Ina" dalam
bahasa Sanskerta yang berarti "matahari" dan memang orang- orang Inca
adalah pemuja Surya.

Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu
Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila.
Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di
balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang
bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra
raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik
India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama
California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park).

Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian
tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan
oleh penari- penarinya dengan memakai tanda "Tri Kuta" atau tanda
mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan
bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu.



5. Agama Hindu di
Indonesia
 



Agama Hindu masuk ke
Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para Musafir dari
India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan
Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir
Budha Pahyien. Kedua tokoh besar ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara
menyebarkan Dharma. Bukti- bukti peninggalan ini sangat banyak berupa sisa-
sisa kerajaan Hindu seperti Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman di
Jawa Barat.

Kerajaan Kutai dengan rajanya Mulawarman di Kalimantan Timur, Kerajaan Mataram
Hindu di Jawa Tengah dengan rajanya Sanjaya, Kerajaan Singosari dengan rajanya
Kertanegara dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, begitu juga kerajaan Watu
Renggong di Bali, Kerajaan Udayana, dan masih banyak lagi peninggalan Hindu
tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Raja- raja Hindu ini dengan para alim
ulamanya sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan agama, seni dan budaya,
serta kesusasteraan pada masa itu. Sebagai contoh candi- candi yang bertebaran
di Jawa di antaranya Candi Prambanan, Borobudur, Penataran, dan lain- lain,
pura- pura di Bali dan Lombok, Yupa- yupa di Kalimantan, maupun arca- arca dan
prasasti yang ditemukan hampir di seluruh Nusantara ini adalah bukti- bukti
nyata sampai saat ini. Kesusasteraan Ramayana, Mahabarata, Arjuna Wiwaha,
Sutasoma (karangan Empu Tantular yang di dalamnya terdapat sloka "Bhinneka
Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa") adalah merupakan warisan- warisan
yang sangat luhur bagi umat selanjutnya. Agama adalah sangat menentukan corak
kehidupan masyarakat waktu itu maupun sistem pemerintahan yang berlaku; hal ini
dapat dilihat pada sekelumit perkembangan kerajaan Majapahit.

Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit menerapkan sistem keagamaan secara
dominan yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Sewaktu meninggal, oleh
pewarisnya dibuatkan pedharman atau dicandikan pada candi Sumber Jati di Blitar
Selatan sebagai Bhatara Siwa dan yang kedua didharmakan atau dicandikan pada
candi Antapura di daerah Mojokerto sebagai Amoga Sidhi (Budha). Raja Jayanegara
sebagai Raja Majapahit kedua setelah meninggal didharmakan atau dicandikan di
Sila Petak sebagai Bhatara Wisnu sedangkan di Candi Sukalila sebagai Buddha.

Maha Patih Gajah Mada adalah seorang Patih Majapahit sewaktu pemerintahan Tri
Buana Tungga Dewi dan Hayam Wuruk. Ia adalah seorang patih yang sangat tekun
dan bijaksana dalam menegakkan dharma, sehingga hal ini sangat berpengaruh
dalam pemerintahan Sri Baginda. Semenjak itu raja Gayatri memerintahkan kepada
putranya Hayam Wuruk supaya benar- benar melaksanakan upacara Sradha. Adapun
upacara Sradha pada waktu itu yang paling terkenal adalah mendharmakan atau
mencandikan para leluhur atau raja- raja yang telah meninggal dunia (amoring
Acintya). Upacara ini disebut Sradha yang dilaksanakan dengan Dharma yang
harinya pun telah dihitung sejak meninggal tiga hari, tujuh hari, dan
seterusnya sampai seribu hari dan tiga ribu hari. Hal ini sampai sekarang di
Jawa masih berjalan yang disebut dengan istilah Sradha, Sradangan yang pada
akhirnya disebut Nyadran.

Memperhatikan perkembangan agama Hindu yang mewarnai kebudayaan serta seni
sastra di Indonesia di mana raja- rajanya sebagai pimpinan memperlakukan sama
terhadap dua agama yang ada yakni Siwa dan Budha, jelas merupakan
pengejawantahan toleransi beragama atau kerukunan antar agama yang dianut oleh
rakyatnya dan berjalan sangat baik. Ini jelas merupakan nilai- nilai luhur yang
diwariskan kepada umat beragama yang ada pada saat sekarang. Nilai- nilai luhur
ini bukan hanya mewarnai pada waktu lampau, tetapi pada masa kini pun masih
tetap merupakan nilai- nilai positif bagi pewaris- pewarisnya khususnya umat
yang meyakini agama Hindu yang tertuang dalam ajaran agama dengan Panca
Sradhanya.

Kendatipun agama Hindu sudah masuk di Indonesia pada permulaan Tarikh Masehi
dan berkembang dari pulau ke pulau namun pulau Bali baru mendapat perhatian
mulai abad ke-8 oleh pendeta- pendeta Hindu di antaranya adalah Empu Markandeya
yang berAsrama di wilayah Gunung Raung daerah Basuki Jawa Timur. Beliaulah yang
memimpin ekspedisi pertama ke pulau Bali sebagai penyebar agama Hindu dengan
membawa pengikut sebanyak ± 400 orang. Ekspedisi pertama ini mengalami
kegagalan.

Setelah persiapan matang ekspedisi kedua dilaksanakan dengan pengikut ± 2.000
orang dan akhirnya ekspedisi ini sukses dengan gemilang. Adapun hutan yang
pertama dibuka adalah Taro di wilayah Payangan Gianyar dan beliau mendirikan
sebuah pura tempat pemujaan di desa Taro. Pura ini diberi nama Pura Murwa yang
berarti permulaan. Dari daerah ini beliau mengembangkan wilayah menuju pangkal
gunung Agung di wilayah Besakih sekarang, dan menemukan mata air yang diberi
nama Sindhya. Begitulah permulaan pemujaan Pura Besakih yang mula- mula disebut
Pura Basuki.

Dari sini beliau menyusuri wilayah makin ke timur sampai di Gunung Sraya
wilayah Kabupaten Karangasem, selanjutnya beliau mendirikan tempat suci di
sebuah Gunung Lempuyang dengan nama Pura Silawanayangsari, akhirnya beliau
bermukim mengadakan Pasraman di wilayah Lempuyang dan oleh pengikutnya beliau
diberi gelar Bhatara Geni Jaya Sakti. Ini adalah sebagai tonggak perkembangan
agama Hindu di pulau Bali.

Berdasarkan prasasti di Bukit Kintamani tahun 802 Saka (880 Masehi) dan
prasasti Blanjong di desa Sanur tahun 836 Saka (914 Masehi) daerah Bali
diperintah oleh raja- raja Warmadewa sebagai raja pertama bernama
Kesariwarmadewa. Letak kerajaannya di daerah Pejeng dan ibukotanya bernama
Singamandawa. Raja- raja berikutnya kurang terkenal, baru setelah raja keenam
yang bernama Dharma Udayana dengan permaisurinya Mahendradata dari Jawa Timur
dan didampingi oleh Pendeta Kerajaan Empu Kuturan yang juga menjabat sebagai
Mahapatih maka kerajaan ini sangat terkenal, baik dalam hubungan politik,
pemerintahan, agama, kebudayaan, sastra, dan irigasi semua dibangun. Mulai saat
inilah dibangun Pura Kahyangan Tiga (Desa, Dalem, Puseh), Sad Kahyangan yaitu
Pura Lempuyang, Besakih, Bukit Pangelengan, Uluwatu, Batukaru, Gua Lawah,
Sistem irigasi yang terkenal dengan Subak, sistem kemasyarakatan, Sanggar/
Merajan, Kamulan/Kawitan dikembangkan dengan sangat baik.

Sewaktu kerajaan Majapahit runtuh keadaan di Bali sangat tenang karena tidak
ada pergolakan agama. Pada saat itulah datang seorang Empu dari Jawa yang
bernama Empu Dwijendra dengan pengikutnya yang mengembangkan dan membawa
pembaharuan agama Hindu di Bali. Dewasa ini, terutama sejak jaman Orde Baru,
perkembangan Agama Hindu makin maju dan mulai mendapat perhatian serta
pembinaan yang lebih teratur.



 



Sejarah
Perkembangan Agama Buddha



Agama Buddha pada mulanya sederhana, namun dalam
perkembangannya tidak lagi demikian. Hal ini tidak lepas dari
"tekanan" umat awam, kepada siapa para bhikkhu "bergantung"
baik untuk memperoleh empat kebutuhan pokok maupun untuk menjalankan misi pelestarian
dan pembabaran Dhamma. Perlu dicatat bahwa umat awam tersebut pada umumnya
hanya mampu mengikuti ajaran yang berupa jalan ke Surga, bukan jalan pembebasan
untuk merealisasikan Nirvana.



Dari buku yang mengisahkan riwayat hidup Buddha Gotama, dapat kita ketahui bahwa
pelayanan keagamaan yang diberikan pada masa itu titik beratnya adalah
penumbuhan kebijaksanaan melalui pelatihan meditasi, khotbah, dan dialog. Dalam
beberapa kesempatan, Sang Buddha juga mempertunjukkan kekuatan gaibnya untuk
menimbulkan keyakinan dan membuka jalan pengajaran. Di samping pancaran kasih
sayang dan kebijaksanaan, Beliau juga memberikan keteladanan dalam tindakan,
antara lain dengan merawat bhikkhu yang sakit. Bentuk pelayanan keagamaan
lainnya pada masa itu adalah sejumlah paritta untuk perlindungan/keselamatan.



Setelah Sang Buddha parinibbana, kita mengenal adanya periode Theravada,
periode Mahayana, dan periode Tantrayana (dan Ch'an). Menurut Dr. Edward Conze
dalam bukunya "A Short History of Buddhism" masing-masing berlangsung
lima ratus tahun. Pada periode Theravada, orang suci yang ideal adalah Arahat
atau orang yang tidak mempunyai keterikatan, nafsu telah padam, dan ia tak akan
dilahirkan kembali di dunia ini. Pada periode Mahayana, orang suci yang ideal
adalah Bodhisatva atau orang yang ingin menyelamatkan semua makhluk dan
berharap pada akhirnya ia menjadi Samyaksambuddha. Pada periode Tantrayana,
orang suci yang ideal adalah Siddha atau orang yang sangat harmonis dengan alam
sehingga ia mampu dengan bebas menggunakan kekuatan alam baik di dalam maupun
di luar dirinya.



Sudah tentu figur orang suci yang ideal pada setiap periode ada kaitannya
dengan perkembangan pelayanan keagamaan. Namun satu hal yang sangat menonjol
adalah berkembangnya aspek bhakti di kalangan umat Buddha yang antara lain
ditandai dengan kehadiran Buddharupang di samping stupa. Berbagai upacara pun
muncul sebagai bentuk pelayanan keagamaan. Upacara-upacara tersebut akan
bermanfaat jika dilakukan dengan semangat yang tepat, sebab dapat membantu
menumbulkan dan mempertahankan keyakinan kita untuk mengukuti jalan Sang
Buddha.



Catatan Singkat Sejarah Perkembangan Agama Buddha



Segera setelah Buddha Gautama parinibbana, 500 murid yang telah menjadi Arahat
berhimpun menyelenggarakan Konsili I di Rajagaha. Konsili yang didukung oleh
Raja Ajatasattu dari Magadha ini mengumpulkan semua ajaran Buddha,
dikelompokkan atas Sutta dan Vinaya, secara sistematis.



Seabad kemudian dengan bantuan Raja Kalasoka di Vesali diselenggarakan Konsili
II yang diikuti 700 Arahat. Ketika itu terbentuk dua kelompok, yaitu
Sthaviravada yang mempertahankan pelaksanaan peraturan secara kaku dan
Mahasanghika yang mengijinkan penghapusan peraturan yang dianggap tidak
penting.



Konsili II diadakan di Pataliputta di bawah pemerintahan Raja Asoka (247 SM),
tidak berhasil melenyapkan perbedaan aliran, tetapi berhasil menghimpun
Abhidhamma. Aliran yang didukung Raja Asoka adalah Vibhajyavada.



Konsili IV diadakan di Jalandhara di bawah dukungan Raja Kaniska (Abad I), yang
menyusun komentar-komentar terhadap Tripitaka. Aliran yang dominan adalah
Sarvastivada, aliran yang menggunakan bahasa Sansekerta. Seribu tahun setelah
Konsili IV agama Buddha tumbuh subur di India. Para cendekiawan memberikan
kontribusi terhadap filsafat Mahayana. Maha Bodhisatva-Maha Bodhisatva menjadi
populer melalui tradisi Vajrayana.



Menurut catatan Sri Lanka, Konsili IV di Jalndhara tidak diikuti oleh aliran
Theravada. Catatan sejarah dari aliran Theravada menyatakan bahwa Konsili V
diadakan di Mandalay, Burma (1871) dan berhasil memahatkan Tipitaka Pali secara
lengkap pada 729 lempengan marmer. Konsili VI yang juga dihadiri
Bhikkhu-Bhikkhu barat diselenggarakan di Rangoon, Burma, dimulai pada hari
Waisak tahun 1954 dan berakhir tepat sebelum hari Waisak tahun 1956.



Agama Buddha masuk Sri Lanka pada abad III SM melalui Bhikkhu Mahinda (putra
Raja Asoka) dan kemudian sangat populer. Pada abad V M Buddhagosa memberikan
kontribusi besar bagi literatur Theravada. Setelah sempat tertidur pada masa
penjajahan, agama Buddha bangkit kembali pada akhir abad XIX.



Agama Buddha masuk Cina dari Asia Tengah pada abad I SM, mula-mula dianggap
asing dan baru tahun 335 bangsa Cina diperbolehkan menjadi bhiksu. Namun pada
tahun 400, 1200 naskah telah diterjemahkan. Abad VII agama Buddha telah menjadi
bagian yang penting dari kebudayaan Cina. Agama Buddha masuk Korea melalui Cina
pada abad IV. Setelah suatu masa dengan pengaruh besar, sempat terhenti dan
baru bangkut kembali awal abad XX. Agama Buddha masuk Jepang melalui Korea abad
VI. Kemudian bhiksu-bhiksu Jepang belajar ke Cina. PAda periode Kamakura,
sejumlah sekte berkembang dan sangat populer. Meski abad-abad akhir tidak
didukung pemerintah, tetap merupakan kekuatan yang penting dalam kebudayaan
Jepang.



Agama Buddha masuk Asia Tenggara melalui para pedagang dan misionaris India.
Ketiga tradisi (Theravada, Mahayana, dan Vajrayana) berkembang pada waktu yang
sama atau berbeda di tempat-tempat yang berlainan. Monumen agung seperti
Borobudur di Indonesia dan Angkor Wat di Kamboja merupakan bukti. Agama Buddha
Theravada terus berkembang di Burma dan Thailand.



Agama Buddha masuk Tibet pada abad VII. Pada abad-abad selanjutnya guru-guru
India menyebarkannya di sana dan terus berkembang subur berkat para guru agung
Tibet. Pada tahun-tahun belakangan banyak orang Tibet membawa agama Buddha
Vajrayana ke barat dan India. Agama Buddha masuk Mongolia dari Tibet pada abad
XIII.



Penjajahan membawa Eropa bertemu dengan agama Buddha di Asia. Kitab-kitab agama
Buddha di bawa ke Eropa untuk dipelajari. Pada awal abad XX, sejumlah orang
Eropa mulai menjalankan ajaran agama Buddha dan sejumlah organisasi didirikan
untuk tujuan itu. Saat ini, pengkajian dan pengamalan ajaran Buddha terus
berkembang di berbagai negara di Eropa.



Agama Buddha mulai dipelajari di Amerika pada abad XIX. Imigran Cina dan Jepang
membawa tradisi-tradisi Buddhis yang berlainan ke Amerika. PAda akhir abad XIX
sejumlah misionari Buddhis berangkat ke Amerika. Saat ini minat masyarakat dan
kalangan akademi terus berkembang subur. Semua tradisi utama terdapat di sini.



Dengan makin sempitnya dunia sebagai akibat arus globalisasi, saling hubungan
antar aliran semakin terjadi dan perkembangan agama Buddha pun memasuki
kerjasama internasional. Pada tahun 1950 di kota Kolombo, Sri Lanka terbentuk
World Fellowship of Buddhists (WBSC) yang juga dimaksudkan untuk menyatukan
pandangan dari berbagai aliran agama Buddha yang tersebat di muka bumi.
Kemudian pada The Third Annual International Buddhist Seminar yang berlangsung
di New York pada tanggal 9 Maret 1974, dicetuskan gagasan untuk mempertautkan
semua aliran agama Buddha di bawah nama Ekayana atau Buddhayana.



Dr.Ananda W.P. Guruge (Srilanka), seorang tokoh UNESCO, di Paris pada tahun
1986 dalam ceramah Waisaknya yang berjudul "Universal Buddhism",
menyatakan, "Saya meramalkan timbulnya kecenderungan-kecenderungan baru
dalam agama Buddha di Barat. Interaksi yang rapat dari berbagai aliran dan
sekte yang berbeda akan berakibat saling mempengaruhi. Pakar-pakar Barat telah
menyuarakan bahwa mereka lebih menginginkan bentuk agama Buddha yang
menggabungkan ketiga Tradisi dari Theravada, Mahayana, dan Vajrayana. Kita
mendengar istilah-istilah Triyana (ketiga jalan) dan Buddhayana
(jalan Sang Buddha) sebagai nama untuk bentuk gabungan dari agama Buddha. Kita
seharusnya tidak merendahkan perkembangan alamiah ini, karena beginilah
sebenarnya bagaimana ajaran Buddha berkembang selama 2500 tahun terakhir.



Sumber : milis TPKB ITS Viriya Vijja Surabaya, artikel ini diambil dari booklet
Pekan Penghayatan Dhamma (PPD) IV yang diselenggarakan TPKB. Artikel ini
berisikan sejarah perkembangan agama Buddha selama 2500 beberapa tahun yang
lalu.



 



 



Sejarah Perkembangan Agama Khonghucu



Sejarah perjalanan dan
perkembangan agama Khonghucu (Kong jiao) sangatlah panjang. Agama Khonghucu
adalah agama yang ada dengan mengambil nama Sang Nabi
Khongcu
(Kongzi/Kong Fuzi) yang lahir pada tanggal 27 bulan 8 tahun 551 SM di negeri Lu
(kini jasirah
Shandong).
Awalnya agama ini bernama Ru jiao (
). Huruf Ru ()
berasal dari kata (
-) ‘ren’ (orang) dan ()
‘xu’ (perlu) sehingga berarti ‘yang diperlukan orang’, sedangkan ‘Ru’ sendiri
bermakna (
) ‘Rou’ lembut
budi-pekerti, penuh susila, (
)
‘Yu’ – Yang utama, mengutama perbuatan baik, lebih baik,..
He – Harmonis, Selaras,..
Ru – Menyiram dengan kebajikan, bersuci diri,.. ‘Jiao
berasal dari kata ‘xiao’
(berbakti) dan
‘wen’ (sastra, ajaran).
Jadi ‘jiao’ berarti ajaran/sastra untuk berbakti; =agama. Maka Ru jiao adalah
ajaran/agama untuk berbakti bagi kaum lembut budi pekerti yang mengutamakan
perbuatan baik, selaras dan berkebajikan. Ru jiao ada jauh sebelum Sang Nabi
Kongzi lahir. (2952 – 2836 SM),
Dimulailah dengan sejarah Nabi-Nabi suci Fuxi Shen-nong (2838 – 2698 SM),
Huang-di (2698 – 2596 SM), Yao (2357 – 2255 SM), Shun (2255 – 2205 SM), Da-yu
(2205 – 2197 SM), Shang-tang (1766 – 1122 SM),Wen, Wu Zhou-gong (1122 – 255
SM), sampai Nabi Agung Kongzi (551 – 479 SM) dan Mengzi (371 – 289 SM). Para
nabi inilah peletak Ru jiao. Sedangkan Nabi Kongzi adalah penerus, pembaharu
dan penyempurna. Maka Ru jiao juga disebut Kong jiao.



Sejarah Agama Konghucu di Indonesia













 



 



 



Berdirinya
lembaga-lembaga agama Konghucu di Indonesia

















Konferensi tahun 1941 akan
diselenggarakan di
Cirebon.
Semua sekolah Khong Kauw Hwee diberi pelajaran agama Khonghucu. Upacara
pernikahan dan kematian supaya diselidiki dan disesuaikan dengan keadaan zaman,
tapi tetap berpatokan pada nilai-nilai Ru Jiao.











Kongres
agama Konghucu









 









Wakil Ketua Umum: Suryo
Hutomo
. Sekretaris: Ws. Oei Tjien
San
. Di dalam konggres ini Pejabat Presiden RI Soeharto
dan Ketua
MPRS A. H. Nasution, memberikan sambutan tertulis. Dirjen Bimasa agama Hindu dan Buddha
Departemen Agama RI, I.B.P. Mastra yang saat itu sudah memberi tempat bagi umat
agama Khonghucu di Departemennya, ikut memberikan sambutan atas nama Menteri
Agama.













 



Penyempurnaan dan
penyeragaman tata Agama Khonghucu.





Pada tanggal 28 s/d 9
September 1979 MATAKIN mengirim utusan mengikuti
World Conference on Religion for Peace ke-3 di New Jersey, Amerika Serikat.





Tanggal 15 Januari 1987 di
Solo diselenggarakan konferensi MATAKIN secara internal dan sebagai hasilnya
telah terpilih Ketua Umum MATAKIN periode 1987-1991 yaitu Ws. Leo Kuswanto.











 



Berdirinya
Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)



Pada tanggal 11-12
Desember 1954 di
Sala diadakan konferensi antar tokoh-tokoh Agama Khonghucu untuk membahas
kemungkinan ditegakkan kembali Lembaga Agama Khonghucu secara Nasional setelah
tidak ada kegiatan semenjak pecahnya
perang dunia II
dan masuknya Jepang ke Indonesia. Akhirnya pada konferensi yang diselenggarakan
di Sala pada tanggal 16 April 1955 disepakati dibentuk kembali Lembaga
Tertinggi Agama Khonghucu Indonesia dengan memakai nama Perserikatan K’ung
Chiao Hui Indonesia yang diketuai
Dr.
Sardjono
. Tanggal 16 April 1955 disepakati
sebagai hari jadi Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia, disingkat MATAKIN.



Sejak berdirinya secara
periodik diadakan Kongres/MUNAS. Pada awal pemerintahan
Orde Baru,
tepatnya tanggal 23-27 Agustus 1967 telah diadakan Kongres ke-VI di mana
Soeharto yang pada waktu itu sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia
berkenan memberikan sambutan tertulis yang antara lain mengatakan bahwa,
"Agama Konghutju mendapat tempat yang layak dalam negara kita jang
berlandaskan
Pantjasila
ini”.



Dengan dikeluarkannya
Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 477/74054/ BA.01.2/ 4683/95 tanggal 18
November 1978 antara lain menyatakan bahwa agama yang diakui oleh pemerintah
yaitu
Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha
mulailah keberadaan umat Khonghucu dipinggirkan. Keputusan politik ini yang
sesungguhnya batal demi hukum, karena sangat bertentangan dengan
Hak Asasi Manusia, disamping itu bertentangan dengan UUD pasal 29 ayat 2 yang memberikan
kebebasan beragama dan beribadat, justru dijadikan pegangan oleh aparat
pemerintah sampai sekarang ini kendatipun telah dicabut per tanggal 31 Maret
2000. Surat edaran ini juga mengingkari realita bahwa warga negara Indonesia
yang memeluk Agama Khonghucu ada di Indonesia. Karena berdasarkan sensus
penduduk yang diadakan lembaga resmi pemerintah yaitu
Biro Pusat Statistik Indonesia pada tahun 1976 penduduk Indonesia yang beragama Khonghucu
mencapai 0,7% yang berarti lebih dari 1 juta jiwa.



 



 



 



 



 



Perkembangan
Lembaga dan Agama Khonghucu pada era Reformasi



Patut disyukuri pengakuan
hak asasi manusia pada era reformasi mulai membaik, terbukti Menteri Agama
Republik Indonesia pada
Kabinet Reformasi
memberikan kesempatan kepada Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN)
mengadakan Musyawarah Nasional XIII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta pada
tanggal 22 – 23 Agustus 1998 yang dihadiri perwakilan
Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN), Kebaktian Agama Khonghucu Indonesia (KAKIN) dan wadah umat Agama Khonghucu lainnya dari berbagai penjuruh
tanah air Indonesia.



Harus diakui karena selama
tidak kurang dari 20 tahun umat Khonghucu di Indonesia hidup dalam tekanan dan
pengekangan sebagai akibat tindakan
represif dan diskriminatif terhadap umat Khonghucu mempunyai dampak negatif bagi perkembangan
kelembagaan umat Khonghucu. Walaupun umat Khonghucu ada di setiap provinsi di
Indonesia, belum semua propinsi ada lembaga agama Khonghucu yang terorganisasi
dan dibawah pembinaan langsung MATAKIN.



Asas
MATAKIN



Sesuai yang tertera dalam
BAB II, pasal 4 Anggaran Dasar, MATAKIN berasaskan
Pancasila.



Hubungan
dengan organisasi lain



Di dalam Anggaran Dasar
MATAKIN Bab XIII pasal 21.2 dengan tegas disebutkan bahwa,” MATAKIN bersifat
independen,
dan tidak berafiliasi dengan/ atau kepada organisasi sosial-politik manapun,
baik di dalam dan di luar negeri”.



Tahun
Baru Imlek



Imlek adalah religi dan
tradisi Konfucian (Rujiao / Kongjiao). Di Tiongkok terdapat dua jenis kalender:
kalender tradisional yang biasa disebut agricultural calendar" (農曆 nónglì, 农历)
dan
kalender Gregorian yang biasa disebut kalender umum (公曆
gōnglì,
公历), atau kalender Barat (西曆 xīlì, 西历).
Nama lain dari
kalender Tionghoa
adalah kalender "Yin” (
陰曆
yīnlì,
阴历), yang dihitung atas
dasar perhitungan bulan. Sedangkan kalender Gregorian disebut
kalender"Yang”(
陽曆 yánglì, 阳历) yang dikaitkan pada perhitungan matahari. Kalender
Tionghoa disebut kalender lama (
舊曆
jìulì,
旧历) sedangkan kalender
Gregorian disebut kalender baru (
新曆
xīnlì,
新历). Kalender Imlek (Yinli)
adalah kalender yang dihitung mulai dari tahun lahirnya
Nabi Kongzi
tahun 551 SM. Jadi tahun 2007 ini berarti tahun 551+2007= 2558 Imlek. Karena
awal tahunnya dimulai dari awal kelahiran Sang Nabi, maka kalender Imlek juga
disebut Khongcu-lek.

Kalender Imlek pertama kali diciptakan oleh
Huang Di,
seorang Nabi/Raja agung dalam agama Ru jiao / Khonghucu. Lalu kalender ini
diteruskan oleh
Xia Yu, sorang raja suci/nabi dalam agama Khonghucu pada Dinasti Xia
(2205-1766SM). Dengan jatuhnya dinasti Xia dan diganti oleh
Dinasti Shang (1766-1122 SM), maka system kalendernya juga berganti. Tahun barunya
dimulai tahun 1 dan bulannya maju 1 bulan sehingga kalau kalender yang dipakai
Xia tahun baru jatuh pada awal musim semi, maka pada Shang tahun barunya jatuh
pada akhir musim dingin. Dinasti Shang lalu diganti oleh
Dinasti Zhou
(1122-255SM), dan bergantilah system penanggalannya juga. Tahun barunya jatuh
pada saat matahari berada di garis 23,5 derajat Lintang Selatan yaitu tanggal
22 Desember saat puncak musim dingin. Dinasti Zhou lalu diganti
Dinasti Qin
(255-202SM). Berganti pula sistemnya. Begitu pula ketika Dinasti Qin diganti
oleh
Dinasti Han(202SM-206M). Pada zaman Dinasti Han,
Kaisar
Han Wu Di yang memerintah pada tahun 140-86 SM lalu mengganti sistem kalendarnya dan
mengikuti anjuran Nabi Kongzi untuk memakai system Dinasti Xia. Dan sebagai
penghormatan atas Nabi Kongzi, maka tahun kelahiran Nabi Kongzi 551 SM
ditetapkan sebagai tahun ke-1. Dengan demikian penanggalan Imlek adalah
perayaan umat Khonghucu.



 



 



 



 



 



 



Sejarah perkembangan agama kristen katolik



Agama Katolik untuk pertama
kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Utara.
Fakta ini ditegaskan kembali oleh (Alm) Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Untuk
mengerti fakta ini perlulah penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang
tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas. Berita tersebut dapat
dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih
al-Armini yang menulis buku "Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja
dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya". yang memuat
berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir,
Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia.



Dengan terus dilakukan
penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan
kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan
Sibolga di Sumatera Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di
Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda
Perawan Murni Maria (Gereja Katolik Indonesia seri 1, diterbitkan oleh KWI)



Awal
mula: abad ke-14 sampai abad ke-18



Dan selanjutnya abad ke-14 dan
ke-15 entah sebagai kelanjutan umat di Barus atau bukan ternyata ada kesaksian
bahwa abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan.



Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis,
yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah.



Banyak orang Portugis yang
memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik Roma di Indonesia, dimulai dari
kepulauan
Maluku pada tahun 1534. Antara tahun 1546 dan 1547, pelopor misionaris
Kristen,
Fransiskus Xaverius, mengunjungi pulau itu
dan membaptiskan beberapa ribu penduduk setempat.



Pada abad ke-16, Portugis dan
Spanyol mulai memperluas pengaruhnya di Manado & Minahasa, salah satunya
adalah menyebarkan agama Kristen Katolik namun hal tersebut tidak bertahan lama
sejak VOC berhasil mengusir Spanyol & Portugis dari Sulawesi Utara. VOC pun
mulai menguasai Sulawesi Utara, untuk melindungi kedudukannya di Maluku.



Selama masa VOC, banyak
praktisi paham Katolik Roma yang jatuh, dalam hal kaitan kebijakan VOC yang
mengutuk agama itu. Yang paling tampak adalah di
Sulawesi
Utara
, Flores dan Timor
Timur
. Lebih dari itu, para imam Katolik Roma telah dikirim ke penjara
atau dihukum dan digantikan oleh para imam
Protestan dari Belanda. Seorang imam Katolik
Roma telah dieksekusi karena merayakan
misa kudus di suatu penjara
semasa
Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai
gubernur Hindia Belanda.



Pada tahun 2006, 3% dari
penduduk Indonesia adalah Katolik, lebih kecil dibandingkan para penganut
Protestan. Mereka kebanyakan
tinggal di Papua dan Flores.



Sejarah
perkembangan agama kristen protestan



Kristen Protestan berkembang di
Indonesia selama masa kolonial
Belanda (VOC), pada sekitar
abad ke-16. Kebijakan VOC yang mengutuk paham Katolik dengan sukses berhasil
meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia.Agama ini berkembang
dengan sangat pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para
misionaris dari Eopa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat
Papua dan lebih sedikit di
kepulauan
Sunda. Pada 1965, ketika terjadi perebutan kekuasaan, orang-orang tidak
beragama dianggap sebagai orang-orang yang tidak ber-Tuhan, dan karenanya tidak
mendapatkan hak-haknya yang penuh sebagai warganegara. Sebagai hasilnya, gereja
Protestan mengalami suatu pertumbuhan anggota, sebagian besar dari mereka merasa
gelisah atas cita-cita politik partai Islam.



Protestan membentuk suatu
perkumpulan minoritas penting di beberapa wilayah. Sebagai contoh, di pulau
Sulawesi, 17% penduduknya
adalah Protestan, terutama di
Tana
Toraja
, Sulawesi
Tengah
dan Sulawesi
Utara
. Sekitar 65% penduduk di Tana Toraja adalah Protestan. dibeberapa
wilayah, keseluruhan
desa atau kampung memiliki sebutan
berbeda terhadap aliran Protestan ini, seperti
Adventist atau Bala Keselamatan, tergantung pada keberhasilan
aktivitas para misionaris.



Di Indonesia, terdapat dua
provinsi yang mayoritas penduduknya adalah Protestan, yaitu
Papua dan Sulawesi Utara, dengan 60% dan 64% dari
jumlah penduduk. Di Papua, ajaran Protestan telah dipraktikkan secara baik oleh
penduduk asli. Di Sulawesi Utara, kaum
Minahasa yang berpusat di
sekeliling
Manado, berpindah agama ke Protestan pada sekitar abad
ke-19.  Saat ini, kebanyakan dari
penduduk asli Sulawesi Utara menjalankan beberapa aliran Protestan. Selain itu,
para transmigran dari pulau
Jawa dan Madura yang beragama Islam
juga mulai berdatangan. Pada tahun
2006, lima persen dari
jumlah penduduk Indonesia adalah penganut Kristen Protestan.





 



 




A CMS that's so simple, it's Surreal.
Begin editing your website in minutes with Surreal CMS.
Let your clients edit their own content with Surreal CMS.
Manage all of your websites from one place with Surreal CMS.
No more late night content changes for clients. Surreal CMS to the rescue!
Surreal CMS is a content management solution that your clients will love.
Surreal CMS just might be the easiest CMS in the world.
Your clients will love Surreal CMS.


kecebong.gaul posted on 10/29/2009 04:10 AM

----------------------------------------------
Copyright © 2000-2014 Aimoo Free Forum All rights reserved.